December 6, 2019
Boleh Music
Musicology

Konferensi Musik Indonesia 2019 Di Bandung Diikuti Ratusan Musisi Tanah Air

South Jakarta – Skena musik Indonesia tergolong yang paling dinamis di Asia Tenggara, namun tak banyak kesempatan bagi para musisi dari berbagai genre dan aktor industri musik lainnya untuk bertemu dan bertukar pendapat. Konferensi Musik Indonesia, yang pertama kali diadakan pada 2018 di Ambon, bermaksud jadi forum yang menyediakan kesempatan tersebut. Hari ini, Gedong Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, menjadi lokasi perhelatan Konferensi Musik Indonesia yang kedua.

“Sabilulungan dalam bahasa Indonesia berarti gotong royong, jadi ini tempat yang tepat untuk mempertemukan orang-orang yang bisa bahu-membahu berkontribusi meningkatkan kualitas industri musik Indonesia,” ujar Glenn Fredly, penggagas Kami Musik Indonesia (KAMI), pada 23 November 2019. “Semoga konferensi kali ini bisa menghasilkan momentum yang membuat industri musik semakin adil dan berkelanjutan. Jika tata kelola industri musik menjadi lebih baik, diharapkan musik juga bisa lebih efektif membantu sektor lainnya, seperti film, pariwisata, hingga merajut perdamaian.”

Upacara pembukaan Konferensi Musik Indonesia

Fokus konferensi ialah tata kelola industri musik yang lebih adil dan berkelanjutan. Konferensi dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; Bupati Bandung, Dadang M. Nasser; Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler; Direktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), Robinson Sinaga; Glenn Fredly, dan Michael Bayu A. Sumarijanto, Direktur Dyandra Promosindo. Berikutnya, ada tiga sesi diskusi yang mempertemukan aktor-aktor penting industri musik dengan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat sipil.

Sesi pertama, Pekerja Musik Berserikat, membahas tentang urgensi pembentukan serikat pekerja musik dan peranannya. Pembicaranya adalah Robinson Sinaga, Direktur Kemenparekraf/Baparekraf; Kadri Mohamad dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI); musisi Candra Darusman dan Nova Ruth; serta Nadia Yustina, Direktur Amity Asia Agency dan anggota Koalisi Seni.

Konferensi Sesi Pleno 1 : Pekerja Musik Berserikat

Berikutnya ialah sesi diskusi Panen Royalti dan Sosialisasi Undang-undang (UU) Ekonomi Kreatif (Ekraf). Sesi ini mendiskusikan tantangan dan solusi dalam royalti bagi musisi, serta peran UU tersebut untuk perihal royalti. Narasumber sesi ini ialah Sabartua Tampubolon, Direktur Kemenparekraf/Baparekraf; Irfan Aulia Irsal dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN); musisi dan politisi Sari Koeswoyo; serta Andi Malewa dari Institut Musik Jalanan.

Dalam sesi ketiga, konferensi akan membahas soal Membangun Kota Musik. Empat pembicara mumpuni akan berbicara di sini. Yakni, Ari Juliano Gema, Deputi Kemenparekraf/Baparekraf; Ronny Lopis dari Ambon Music Office; Arief Budiman, pendiri Rumah Sanur dan anggota Indonesia Creative Cities Network; serta Djaelani Jay dari Jendela Ide dan Komite Musik Dewan Kesenian Kota Bandung.

Adapun musisi yang akan tampil sepanjang acara datang dari beragam genre. Kafin Sultan, Karinding Attack, Institut Musik Jalanan, D’Cinnamons, JMT, Orkes Hamba Allah, Serdadu Bambu, dan Tuan Tiga Belas akan bergantian mengisi panggung.

Acara yang terbuka untuk publik dan gratis ini dihadiri ratusan orang, baik dari musisi, pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum. Seperti pada 2018, konferensi kali ini juga diselenggarakan KAMI bersama Yayasan Ruma Beta, Dyandra Promosindo, dan Koalisi Seni. Materi presentasi pembicara akan tersedia di www.kamimusik.id.

KAMI adalah gerakan pegiat musik yang bertujuan memajukan ekosistem musik. KAMI bekerja sama dengan Yayasan Ruma Beta, Dyandra Promosindo, dan Koalisi Seni melaksanakan Konferensi Musik Indonesia yang pertama pada 7-9 Maret 2018 di Ambon, dengan fokus musik sebagai kekuatan baru ekonomi. Melibatkan beragam pemangku kepentingan industri musik, KAMI juga ingin menjadikan musik sebagai kekuatan industri kreatif Indonesia.

Sepanjang 2019, KAMI bersama Koalisi Seni aktif mengadvokasi kebijakan Rancangan Undang-undang (RUU) Permusikan yang berpotensi membelenggu kebebasan berekspresi musisi, hingga rancangan peraturan tersebut resmi ditarik oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). KAMI pun mengadakan serangkaian diskusi membahas beragam topik terkait musik, dengan tema terentang dari menumbuhkan nalar kritis lewat musik hingga musik lintas iman. (SPR)

Related posts

Inilah Album, Lagu, Artis Lokal dan Internasional Paling Banyak Diputar Di Spotify 2019

Qenny Alyano

Serikat Pekerja, Royalti, dan Kota Musik Jadi Bahasan Hangat Konferensi Musik Indonesia 2019

Qenny Alyano

Inilah 10 Band Dan Album Grunge Terbaik Versi Loudwire

Angga Foster