August 8, 2020
Boleh Music
Musicology What's New

CEO Spotify Daniel Ek Ingin Musisi Berhenti Mengeluh Soal Royalti Dari Streaming

South Jakarta – Pandemi virus Corona (COVID-19) membawa dampak ke berbagai bidang terutama ekonomi di seluruh dunia. Banyak negara mulai dari negara maju bahkan negara berkembang yang berada mengalami kesulitan ekonomi bahkan bisa sampai dalam keadaan resesi. Terlepas dari konsekuensi ekonomi dari pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, layanan streaming ternama Spotify justru terus berkembang.

Layanan streaming asal Swedia tersebut mengungkapkan data keuangan triwulanan terbarunya, mengumumkan telah meraih 138 juta pelanggan dan 299 juta pengguna aktif bulanan, masing-masing menambah 13 juta untuk Q2. Nilai saham perusahaan Spotify juga  mencapai angka  tertinggi sepanjang masa di tengah krisis keuangan yang terjadi saat ini juga, bahkan meroket hingga $ 50 miliar USD. Dilansir dari Hyperblast.com, CEO Spotify, Daniel Ek ( yang mempunyai kekayaan bersih $ 4,5 miliar USD) mengungkapkan kepada Music Ally dalam wawancara baru-baru ini untuk berbicara tentang kesuksesan perusahaan dan juga rencana mereka untuk masa depan.

Dalam wawancara tersebut Daniel Ek mengungkapkan saat ini layanan streaming menjadi model ekonomi yang dapat diandalkan, namun disisi lain dipandang negatif oleh banyak artis di seluruh dunia, terutama oleh penulis lagu. Artis  besar yang didukung oleh sistem label besar mendominasi layanan streaming ini, terutama di Spotify. Mereka mendapatkan penempatan prioritas pada daftar putar yang dikuratori perusahaan sementara artis yang lebih kecil dan independen harus menemukan cara kreatif agar musik mereka mendapatkan perhatian dari para pengguna. Royalti di Spotify berjalan  melalui format “pro-rata”. Dimana penghasilan setiap lagu didasarkan pada seberapa banyak lagu itu diputar tetapi di satu sisi juga dibandingkan dengan trek paling populer layanan streaming. Dengan konsep tersebut,  jelas bahwa model pro rata berpihak pada beberapa artis papan atas yang mendapatkan jumlah [pemutaran] terbesar.

“Bahkan hari ini di pasar kami, ada jutaan dan jutaan seniman. Apa yang cenderung dilaporkan adalah orang-orang yang tidak bahagia, tetapi kami sangat jarang melihat siapa pun yang berbicara tentang … Di seluruh tempat [Spotify] berada, saya pikir saya tidak pernah melihat seorang artis pun berkata ‘Saya bahagia dengan semua uang yang saya dapatkan dari streaming, “ungkap Daniel Ek kepada Music Ally. “Menyatakan hal tersebut secara terbuka. Secara pribadi [musisi] telah melakukan itu berkali-kali, tetapi di depan umum mereka tidak memiliki insentif untuk melakukannya. Namun dari data tersebut, semakin banyak artis yang bisa hidup dengan penghasilan streaming itu sendiri.”

CEO dan Founder CEO Spotify, Daniel Ek ( foto : CNBC )

 

“Ada kekeliruan narasi di sini, dikombinasikan dengan fakta bahwa, tentu saja, beberapa artis yang dulu bekerja dengan baik di masa lalu mungkin tidak melakukannya dengan baik di lanskap masa depan ini, di mana anda tidak bisa merekam musik sekali setiap tiga hingga empat tahun dan berpikir itu sudah cukup. ” lanjut Daniel Ek. Daniel Ek sendiri juga  memiliki cara untuk menyelesaikan masalah tersebut, namun hal itu tidak termasuk memberikan bantuan keuangan lebih lanjut kepada artis melalui kenaikan tarif royalti.

“Para artis hari ini yang membuatnya menyadari bahwa ini adalah tentang menciptakan keterlibatan yang berkelanjutan dengan penggemar mereka. Ini tentang menempatkan pekerjaan, tentang memberikan cerita di seputaran album, dan tentang menjaga dialog yang berkelanjutan dengan penggemar anda. Dengan kata lain : tidak pernah berhenti membuat musik.”

“Ada dua tren berbeda di sini yang patut dicoba. Kami menyadari bahwa banyak artis yang terkena dampak dalam jangka pendek akibat COVID dan dampaknya pada industri pertunjukan live. Seperti yang anda ketahui, banyak penghasilan hari ini yang diperoleh artis [pra-COVID-19] adalah dari tur dan pertunjukan langsung. Banyak seniman yang berjuang karena hal tersebut, ”lanjut Daniel.

Pada akhirnya Daniel Ek ingin tanggung jawab jatuh pada musisi untuk merekam lebih banyak, bekerja lebih keras dan terus menarik keuntungan secara dari layanan kolektif itu sampai mereka dapat mulai tur lagi. Sampai saat itu terjadi, ia berkata, “Saya merasa, sungguh, bahwa orang-orang yang tidak melakukan streaming dengan baik sebagian besar adalah orang-orang yang ingin merilis musik mereka seperti keadaan dulu dirilis.”

Related posts

Serikat Pekerja, Royalti, dan Kota Musik Jadi Bahasan Hangat Konferensi Musik Indonesia 2019

Qenny Alyano

Inilah 10 Gitar Listrik Terpenting Di Dunia

Angga Foster

Def Leppard, Motley Crue, Poison dan Joan Jett Tur Bersama Musim Panas 2020

Qenny Alyano