September 22, 2020
Boleh Music
Musicology

Waiting Room : Dari Band Hardcore Sekolah Sampai Pionir Ska Core Ibukota

South Jakarta – Mendengar nama band yang satu ini pasti langsung teringat judul lagu dari band post hardcore legendaris, Fugazi, yang berjudul “Waiting Room”. Tidak dipungkiri nama band yang menjadi buah bibir di skena musik bawah tanah di pertengahan  tahun 1990-an tersebut memang terinpirasi dari lagu band yang dimotori Ian MacKaye pasca Minor Threat. Setelah lama tidak ada kabar, Waiting Room mengumumkan akan merilis ulang debut album self-tittle yang sering disebut ‘Buaya Ska’ dalam waktu dekat dalam format kaset dan digital. Bekerja sama dengan Sabda Nada Records, Waiting Room juga akan mengadirkan album tersebut dengan tote bag, sticker dan mini pin.

Mengenang nama Waiting Room pastinya tidak lepas dari nama sebuah studio yang menjadi tongkrongan band-band di kawasan Percetakan Negara di pertengahan tahun 1990-an bernama Oktaf Studio. Berawal dari pertemanan semasa SMA antara dua sekolah negeri di kawasan Jakarta Pusat, yaitu SMA 68 dan SMA 27 yang kemudian bertemu di Oktaf Studio yang menjadi tonggak awal terbentuknya band  yang saat itu belum mempunyai nama.

Formasi band tanpa nama tersebut terdiri Eka (vokal), Vanno (gitar), Albert (gitar), Ibob (bass) dan Ican (drums) dan membawakan lagu-lagu dari band Fugazi. Suatu hari Eka menemukan studio baru di bilangan Kayu Manis bernama Bee Sound yang kemudian mempertemukannya dengan Lukman Laksmana aka Buluk ( Superglad, Kausa ) yang saat itu dikira sebagai penjaga studio tersebut. Belakangan akhirnya diketahui bahwa Buluk adalah pemilik dari studio tersebut. Buluk yang menyaksikan band tersebut terkaget-kaget saat mereka membawakan lagu-lagu Fugazi dimana saat itu musik alternative dan grunge mendominasi selera musik di kalangan anak muda Jakarta. Suatu hari Buluk mengajak Eka dan bandnya untuk tampil di kafe di bilangan Depok. Karena band saat itu belum mempunyai nama maka Buluk memberi nama band itu Waiting Room, sebuah judul lagi Fugazi. Buluk kemudian juga ikut bernyanyi di acara tersebut sehingga akhirnya Waiting Room menjadi format mempunyai dua vokalis.

Waiting Room kemudian sering mengisi di sejumlah event Underground di Jakarta dan sejumlah festival dan pentas seni.termasuk  ‘Festival Musik Alternative’ di Stadion Persija Menteng (kini jadi Taman Menteng) dan ‘Hoolabaloo Festival’ di GOR Saparua, Bandung. Waiting Room juga mulai mengeksplorasi musik selain hardcore yang menjadi referensi musik mereka termasuk Ska, Punk, HipHop, Jazz dan Funk. Musik dari band seperti Mighty Mighty Bosstones, Operation Ivy dan The Suicide Machines membawa pengaruh dalam musik Waiting Room yang disebut dengan Ska Core, Menjelang perilisan debut album mereka, Albert harus melepas posisi gitar karena harus melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat. Posisi Albert kemudian digantikan oleh Juan. Tahun 1997 Waiting Room melepas debut album mereka dalam format kaset yang berisi 11 lagu yang bekerja sama dengan Tropic sebagai distributor. Kesebelas lagu dalam album tersebut adalah Side A : “Ruang Tunggu”, “Human Survive”. “In Hate”, Brotherhood””Brainwash” dan Side B : “Here Comes”, “The Waiting Room”, “We Against You”, “The Joke’s On You”, “Duit” dan “Fuctapella”.

Kehadian debut album Waiting Room tersebut ternyata juga sempat mendapat polemik di kalangan musik Underground tanah air terutama dari komunitas Punk dan Skihead Jakarta.. Berawal dari suatu kutipan di sebuah majalah ternama tanah air, Waiting Room kemudian mendapat respon negatif karena adanya kesalahan interpretasi dari majalah tersebut membuat Waiting Room mendapat stigma dari sebagian kalangan komunitas musik Underground Jakarta. Puncaknya saat Waiting Room tampil di sebuah acara di Poster Café, mereka mendapat perlakuan negatif bahkan sampai penyerangan. Usai kejadian tersebut, Waiting Room kemudian meluruskan masalah tersebut dengan mengadakan komunikasi dengan komunitas yang salah paham tersebut dan bahkan menjalin pertemanan di kemudian hari.

Babak baru Waiting Room kemudian terjadi seriing waktu dengan kepergian Eka yang harus melanjutkan kuliah di Australia. Waiting Room kemudian mengembangkan musik mereka dengan konsep baru dan juga perubahan formasi di band dengan kehadiran Giok (bass), Dadi (gitar) dan Akbar (drums) yang membawa mereka menjalin kontrak dengan label Pops/Aquarius dan merilis album ‘Propanganda’ dan ‘Music’. Formasi baru Waiting Room ini merupakan cikal bakal dari band rock yang kemudian dikenal dengan nama Superglad.

Related posts

Inilah 20 Lagu Natal Terlaris Sepanjang Masa

Qenny Alyano

Iron Maiden Kenang Sosok Produser Album Klasik Mereka, Martin Birch

Qenny Alyano

Lintas Profesi Termasuk Musisi Lawan COFIDS-19 Lewat ‘Gerakan Rp 1000 Untuk Indonesia’

Qenny Alyano