April 20, 2021
Boleh Music
New Comers

Bergerak Secara Indie Wizzy Rilis Single Baru “The Light”

South Jakarta – Wizzy adalah penyanyi, penulis lagu dan multi-instrumentalis dari Surabaya, Indonesia. Setelah mengarungi kariernya selama kurang lebih 5 tahun di bawah naungan label dan manajemen arus utama, di tahun 2020 ia memutuskan untuk memulai lembaran baru dan bergerak secara independen. Akhirnya, di tahun 2021 ini ia membuka halaman pertama dengan sebuah single yang berjudul “The Light”.
.
Secara garis besar, musiknya berputar di sekitaran ranah R&B dan Neo-Soul dengan beragam pendekatan Electronic. Jika diibaratkan dengan karakter seseorang, bisa dibilang musiknya adalah seseorang yang apa adanya, simpatik, namun tak akan segan melontarkan “persetan” dengan senyuman kepada siapa saja yang membutuhkannya. Ia menganggap We Are King, Erykah Badu, Solange, The Internet dan FKA Twigs sebagai sosok yang paling mempengaruhi perspektif kreatifnya . Di samping itu, baru-baru ini ia terhasut oleh tata suara modular berkat Floating Points. Untuk pertama kali dalam hidupnya, kini Wizzy akan memusatkan diri menikmati kebebasan barunya dan membagikan pengalaman tersebut melalui garapan-garapan anyar yang tengah digodok, tanpa dibebani ambisi atau ekspektasi apapun selain milik dirinya sendiri.

“Semua pasti lagi berjuang di dalam perangnya masing-masing. Sejatinya, nggak akan ada yang bisa menangin perang tersebut kecuali orang itu sendiri. Cuma kita yang bisa ngatur mau terus terusan tenggelam dalam gelap, atau bangkit dan jalan dengan penerangan sendiri. Lewat “The Light”, gue ingin menyampaikan bahwa kita selalu bisa punya titik terang sendiri, selama kita mau usaha dan ubah perspektif. Gue yakin, mimpi segila apapun bisa kita capai ketika kita mau menghargai prosesnya dan membawa hati dan pikiran kearah yang lebih baik”

Artwork single “The Light” – WIZZY ( foto : istimewa )

Bagi Wizzy, masa pandemi dengan segala hingar-bingarnya merupakan ‘a blessing in disguise’, walau sejujurnya masih dipenuhi tanda tanya. Mengisolasi diri tidak dipandang sejajar dengan mengisolasi emosi, pikiran dan berkreasi. Alih-alih dilumpuhkan oleh keadaan, Wizzy lebih memilih untuk mengajak dirinya meneropong dengan perspektif lain. Kini, ia meneruskan ajakan tersebut kepada khalayak luas melalui single terbarunya, “The Light”.

Wizzy berkaca mengenai segala perubahan yang terjadi. Hipotesa pertama muncul ketika ia terpaku mempertanyakan aspek-aspek eksternal, namun tak lama ia semakin menyadari bahwa yang harus ia gali lebih dalam adalah pergelutan di dalam dirinya sendiri. Sebagai latar belakang,Wizzy menjalani semasa hidupnya berada di bawah naungan label dan manajemen arus utama ibukota, dengan kebebasan kreatif yang hampir nihil. Hari-hari ia lewati dengan satu mimpi yang kerap muncul di benaknya, yaitu melahirkan karya yang sepenuhnya sesuai dengan perspektif kreatifnya, menceritakan hal-hal riil yang benar-benar ia alami. Namun, perannya sebagai tulang punggung keluarga sudah cukup untuk membuatnya menyimpan mimpi tersebut sebagai penghibur diri semata.

“Ini adalah kali pertama gue merilis lagu secara independen. Sebelumnya, gue kontrak 5 tahun dengan salah satu major label (2015-2020), tapi gue seringkali tidak dilibatkan dalam proses kreatifnya, mulai dari pembuatan lagu, video klip, sampai pemasarannya, sehingga semua karya yang dirilis ketika itu tidak merepresentasikan gue dengan baik. If I can’t show people who I really am as an artist, what’s the point?” ujarnya.

Tak disangka, kehadiran sebuah pandemi global malah menjadi suatu injakan tegas yang membuatnya melaju lebih jauh untuk merealisasikan mimpinya.

“Maret 2020 gue memutuskan untuk keluar dari label dan mengambil jalur independen. Beruntungnya, di bulan itu COVID-19 merajalela. Uang tabungan yang sudah gue simpan untuk membuat album independen nggak lama habis untuk kebutuhan hidup gue dan keluarga, rasanya bingung mau ngapain lagi. Berpikir jernih dimasa-masa sulit memang tantangan terberat, apalagi ketika otak dihajar nonstop mikirin gimana caranya biar tetep bisa biayain kuliah adek gue. Dulu main source of income gue itu dari offline events, jadi sejak manggung nggak ada, ya income juga nol. Jujur gue sempet sampe frustasi dan anxiety tiap malem, nggak bisa tidur, sebelumnya nggak pernah. Saat itu gue lagi di Surabaya, dan ngeliat keadaan nyokap & bokap yang sudah semakin tua, gue beneran nggak tega. Di pikiran gue cuman satu, gue pengen banget bisa nyenengin mereka selama mereka masih ada. Itulah yang jadi penggerak utama gue untuk buka Garage Band di iPhone, colok earphone buat pake mic-nya, dan bikin aransemen buat The Light. Waktu itu belum ada judulnya dan bunyinya masih rough banget.”

Wizzy rilis single “The Light” foto : istimewa )

“Bulan Agustus, ada kerjaan yang mengharuskan gue untuk berangkat ke Jakarta. Meskipun kerjaan dari salah satu stasiun televisi itu kompensasinya hanya sekedar uang transport dan ditransfer 3 bulan kemudian, gue tetep ambil karena gue tetep bersyukur masih bisa dapet kerjaan. Terus gue mikir, kalo ke Jakarta, at least ada hal lain yang harus gue kerjakan. Tapi, ngerjain apa ya? Sama siapa, gimana, duitnya cukup ga ya? Sesampainya di Jakarta, gue bertemu Lintang (MV Director) dan Greybox (Music Producer) yang secara kreatif gue merasa sangat bersinergi dengan mereka. Pertama kali mereka mendengarkan demo yang gue buat, suprisingly mereka sangat senang dan antusias untuk bantu garap, bahkan Lintang turut andil dalam penulisan liriknya, jadi pas dia translate secara visual, lebih ngena. Seketika gue merasa sangat bersyukur dan jadi punya semangat lagi setelah kemarin berada di masa-masa suram.”

Proses produksi lagu “The Light” menghabiskan waktu sekitar 1 bulan. Direkam di sebuah studio rumahan sederhana di Tangerang, setiap langkah dalam prosesnya terasa enteng dilalui karena keselarasan perspektif yang terbagi antara Wizzy dan para kolaborator. Tak perlu dibombardir nada-nada maupun kata-kata yang kompleks, “The Light” langsung mengutarakan pesan dan niatnya tanpa basa basi, dan juga tanpa unsur paksaan. ‘You either take it, or just leave it’.

Song Credits:
Produced by Greybox
Composed & Arranged by Wizzy
Lyrics by Lin Manik
Mixed by Greybox
Mastered by Rizky Argadipraja at Grey Audio Lab

 Music Video Credits:
Produced by Lin Manik & Wizzy
Directed & edited by Lin Manik
Featuring photos & footages by Bintang Adamas
Production assisted by Nissi De Fretes

Artwork:
Photo by Bintang Adamas
Graphic designer by Gemma Ivana Miranda

(SPR)

Related posts

Rapper Gorontalo Ecko Show Rilis “Dunia Fana” Bersama Ustadz Derry Sulaiman

Boleh Music

Band Emo Happy Kenang Hari Dengan Orang Tersayang Lewat “Background Noise”

Qenny Alyano

Bernyanyi Sejak Kecil Jessica Xaviera Produseri Single Baru “Could’ve Been”

Qenny Alyano